berdamai dengan diri

             Hello, kali ini mungkin gua akan share pengalaman gua berdamai dengan diri. Oke mungkin bahsanya agak berat tapi untuk bisa faham mungkin kalian bisa baca post gua sebelumnya. "berdamai dengan diri" mungkin adalah kalimat yang cocok untuk menggambarkan situasi gua. sebuah pengalaman yang sangat berarti buat gua dan menjadi batu loncatan buat gua hingga sampai saat ini(cielah lebay banget).
            mungkin gua akan ceritain garis besarnya lagi. jadi dua tahun lalu gua diterima di salah satu politeknik negeri yang ada di bogor dan karena beberapa alasan gua memutuskan untuk berhenti. Pas gua bilang mau berhenti kuliah waktu itu keluarga gua kaget banget, ya wajar aja karena di mata mereka gua dikenal sebagai anak yang ceria, dan pemberani jadi ga heran waktu gua bilang mau pulang spekulasi spekulasi liar bermunculan di keluarga gua. mereka silir berganti ngeluarin petuah bijak versi mereka. pakde gua yang seorang kepala sekolah mengeluarkan kata kata bijak bak mario teguh. pakde gua satunya yang seorang kepala satpam perusahaan nelpon setelahnya, isi kata katanya ga jauh beda, cuma dia menyampaikanya dengan  lebih "keras". gua cuma bisa ngangguk ngangguk nge-iyain semua petuah mereka. Tapi keputusan gua tetep sama, "gua pengen berhenti dan keluar" cuma itu yang ada di kepala gua waktu itu.
            alasan kenapa gua keluar sebenernya kurang rasional. gua berfikir kalo analis kimia ga akan cocok untuk gua kedepanya. dalam pikiran gua waktu itu kimiawan adalah seorang yang seharian meneliti sesuatu di lab yang kerjaanya baca buku siang malam sampe kepala botak setengah, dan gua merasa gua bukan orang yang akan seperti itu. Gua merasa kalo gua adalalah pembicara. Gua suka bicara dan senang kalo ada orang yang mendengar gua bicara. Menjadi orator dan ahli retorika bagi gua adalah sebuah cita- cita dan waktu itu gua yakin kalo menjadi analis kimia bukan merupakan jalan untuk mencapainya.
            Berbekal idealisme kurang matang itu akhirnya gua memutuskan untuk berhenti dan pulang. Gua pikir semuanya akan on track tapi ternyata semua berjalan di luar dugaan. gua lupa kalo keputusan yang gua buat udah ngecewain banyak orang. orangtua, keluarga, temen, guru, bahkan adik kelas yang berharap gua jadi pintu gerbang buat mereka untuk masuk ke poletiknik itu. Ya, akhirnya disana gua sadar. Gua terlalu mementingakan ego di atas segalanya. Mungkin ego itu yang membuat gua jadi naif. gua inget banget waktu gua pulang dan gua nyium tangan bapak ibu, disana terlihat jelas nyaris ga ada senyuman, raut wajah mereka penuh kekecewaan. Serius, itu pertama kalinya gua liat ekspresi ibu gua kayak gitu. Saat itu gua faham kesalahan gua, kuliah di Politeknik adalah pilihan gua. bahkan orangtua guapun belum pernah denger nama politeknik itu sebelumya. gua yang kasih tau mereka tentang kampus itu, mempresentasiakan segalanya dari mulai sejarah kampus sampe prospek kerja sambil meyakinkan mereka agar gua boleh daftar. Lucunya, setelah gua diterima gua malah dengan ringanya minta berhenti tanpa alasan yang jelas bagi mereka. Ga lama setelah itu orang tua gua berangkat kerja menyisakan gua sendiri di rumah. Seharian gua mikirin apa yang harus gua lakuin selanjutnya. TV di rumah gua biarin hidup dengan suara keras. "mungkin aja acara di TV bisa kasih gua inspirasi" pikir gua waktu itu. Hasilnya? buntu. semua rencana masa depan yang cerah itu tiba tiba hilang entah kemana. Gua kehilangan arah,

         Enam bulan pertama gua sejak pulang dari bogor bisa dibilang menjadi fase tersuram dalam hidup gua. Kegiatan gua tiap hari sama, pagi siram bonsai terus anterin adek sekolah. Siasanya? Tidur dan makan persis kayak babi di peternakan. Bisa dibilang kalo waktu itu gua kayak kresek sampah di tengah laut, diam dan cuma bergerak kalo ada ombak. hasilnya? berat badan gua naik drastis. gua yang sebelumya udah terlihat mirip anak sapi naik tingkat jadi sapi gelonggogan. naiknya berat badan gua bukan tanpa alasan. "Berfikir keras menentukan masa depan butuh kalori ekstra" pikir gua waktu itu. berdasarkan sumber yang gua baca untuk berfikir emang butuh asupan kalori tambahan, tapi mungkin tambahan kalori gua terlalu banyak yang akhirnya ngebuat badan gua jadi mirip dugong versi darat.
         Diawal kepulangan gua sempat mengucilkan diri dari pergaulan. Alasanya? gua benci menjawab semua pertanyaan . Bagi gua mereka ga bersimpati, mereka cuma penasaran. saking keselnya gua sampe menghapus hampir semua sosial media dan ganti nomor hp dan hanya ngasih nomor itu ke orang orang terdekat gua. mendekati keheningan sampai menemukan solusi dan kembali di saat semua sudah sesuai rencana adalah keputusan yang gua pilih waktu itu. Enam bulan menjadi manusia anti sosial bukan suatu hal yang mudah. Walaupun gua menarik diri dari pergaulan bukan berarti gua jadi remaja no life yang ga pernah ketemu siapapun. Sahabat gua masih sering dateng ke rumah gua. Mereka datang bukan karena rasa penasaran, mereka datang untuk membantu. Untuk mendukung pria gemuk yang nyaris kehilangan arah ini. Secara kuantitas mungkin gua bisa berubah menjadi anti sosial. tapi secara kualitas gua tetep punya sahabat sahabat hebat. Ga banyak memang, tapi udah lebih dari cukup buat gua.Orang- orang keren itulah yang berhasil ngembaliin semangat gua.Bukan keluarga memang, tapi mereka juga merupakan seuatu yang berharga. Serius gua terharu dengan mereka dan kalo kalian salah satu sahabat gua baca tulisan ini. gua cuma mau bilang "terimakasih sebesar besarnya, dan maaf kalo kebaikan kalian belum bisa gua balas, atau mungkin ga akan pernah cukup untuk membalasnya".
          
               teruss apa yang gua lakuin dengan 6 bulan setelahnya? gua mencoba berdamai dengan diri. berhenti meyalahkan diri atasa segala kebodohan. mencoba realistis menatap satu arah. gue sadar, kadang tuhan gak memberikan apa yang kita mau. tapi apa yang kita butuhkan. gue coba les untuk persiapan SBMPTN, mencoba peruntungan sekali lagi. target gue kali ini beda. gue bukan lagi orang kolot yang cuma mau kuliah di satu tempat atau gak kuliah sama sekali. kali ini gua cuma punya satu misi, kuliah di perguruan tinggi, kenapa PTN? karena gue sadar udah banyak uang orang tua gua yang kebuang tahun kemaren. so, gua harus mampu meringankan beban meraka. kali ini gua belajar serius,gua belajar dimanapun gue berada, di taman, di rumah, di cafe, di wc, di atas pohon pisang. oke tadi terlalu berlebihan. tapi serius,seengaknya sekarang setiap hari gue nyisihin waktu buat belajar.Hasilnya? gua keterima di PTN tujuan gua. Rasanya? HAHAHA....kayaknya ga perlu di deskripsiin, saking senengnya gua sampe sujud syukur nyaris setengah jam( btw, ini serius gua lakiun). 

         Duabelas bulan  yang sangat "menyengakan" buat gua. Pernah terbang dalam euforia lalu jatuh tenggelam tanpa arah dan kembali merangkak ke permukaan mengajarkan gua kalo hidup itu sebuah pertaruhan. Untuk menang kita harus bertaruh, terkadang kita perlu bertaruh dengan harga yang besar. atau bahkan all out dengan semua yang kita bisa sehingga cuma muncul dua pilihan, kalah telak atau menang total. Ya, untuk kedua kalinya gua berhasil. tapi kali ini beda. gua lebih matang dalam perencanaan. Gua menang dalam taruhan ini. Semua modal yang gua siapkan dibalas kemenangan total. Untuk kedepanya? tentunya gua akan bertaruh lagi, soal seberapa besar dan kapan mungkin masih menjadi misteri. wellll, lets see kemana lagi angin akan menggiring langkah ini...

Related Posts:

0 Response to "berdamai dengan diri "

Posting Komentar